Selasa, 30 Oktober 2012

KANDUNGAN PROTEIN PADA PELET IKAN YANG MENGANDUNG SILASE AMPAS TAHU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN



PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
            Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi untuk kesehatan yang baik, pertumbuhan dan hasil panen yang optimum, produksi limbah yang minimum dengan biaya yang masuk akal demi keuntungan yang maksimum. Pakan yang berkualitas kegizian dan fisik merupakan kunci untuk mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomis budidaya ikan. Pengetahuan tentang gizi ikan dan pakan ikan berperan penting di dalam mendukung pengembangan budidaya ikan (aquaculture) dalam mencapai tujuan tersebut. Konversi yang efisien dalam memberi makan ikan sangat penting bagi pembudidaya ikan sebab pakan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya produksi. Bagi pembudidaya ikan, pengetahuan tentang gizi bahan baku dan pakan merupakan sesuatu yang sangat kritis sebab pakan menghabiskan biaya 40-50% dari biaya produksi.
Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak esensial), energi (karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk digambarkan dikarenakan banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama dan setelah penyerapan di dalam pencernaan ikan Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan baku pakan (feedstuffs) yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber dan sering kali digunakan karena sudah tidak lagi dikonsumsi oleh manusia. Pemilihan bahan baku tersebut tergantung pada: kandungan bahan gizinya; kecernaannya (digestibility) dan daya serap (bioavailability) ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun; tersedia dalam jumlah banyak dan harga relatif murah. Umumnya bahan baku berasal dari material tumbuhan dan hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari produk samping atau limbah industri pertanian atau peternakan. Bahan-bahan tersebut bisa berasal dari lokasi pembudidaya atau didatangkan dari luar.












KANDUNGAN PROTEIN  PADA PELET IKAN YANG MENGANDUNG SILASE AMPAS TAHU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN


            Pada usaha budidaya ikan yang dilakukan secara tradisional kebutuhan pakan dapat dipenuhi oleh pakan alami yang tumbuh di kolam. Akan tetepi di kolam ikan yang dikelola secara intensif, produksi pakan alami sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan ikan yang ditebarkan dengan kepadatan tinggi. Konsekuensinya, untuk memenuhi kebutuhan pakan yang tepat dan berkesinambungan, harus digunakan pakan buatan. Penyediaan pakan buatan ini harus ditangani secara sungguh karena sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya.
            Semua jenis ikan membutuhkan zat – zat gizi yang baik untuk kelangsungan hidupnya. Selain baik kualitasnya, akan dan komposisinya juga harus diperhatikan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan. Pada dasarnya zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh ikan dapat digolongkan menjadi dua kelompok:
1.      kelompok  yang menghasilkan energi. Zat gizi yang termasuk kelompok ini akan menghasilkan energi jika dicerna oleh ikan. Tiga komponen zat gizi yang dapat menghasilkan energi adalah protein, lemak, dan karbohidrat. Ketiga komponen ini juga disebut komponen makro (macro component) karena dibutuhkan ikan dalam jumlah relative besar. Nilai dari komponen energi pakan adalah 4,0 kkal/g untuk protein 9,0 kkal/g untuk lemak dan 4,0 kkal/g untuk karbohidrat.
2.      kelompok yang tidak menghasilkan energi. Meskipun tidak menghasilkan energi komponen zat gizi yang termasuk dalam kelompok ini tetap diperlukan oleh ikan untuk menjaga keseimbangan gizi dalam tubuhnya. Komponen pakan yang tidak menghasilkan energi adalah vitamin dan mineral.

1.1.         Protein
Protein merupakan senyawa polimer yang tersusun dari ikatan asam-asam amino. Pada ikan, protein tersusun sekitar 70% bobot kering bahan organik di dalam jaringan tubuh ikan, oleh karenanya, kandungan protein merupakan salah satu senyawa bergizi yang paling penting pada pakan ikan. Kandungan protein kasar merupakan ukuran umum bagi kualitas pakan ikan dan pertumbuhan ikan akan berbanding langsung dengan kandungan protein di dalam pakannya, jika kandungan itu berada dalam kisaran 20 – 40% protein kasar.Kebutuhan protein optimum untuk ikan bervariasi bergantung pada jenis ikan, tahap kehidupan, suhu air, konsumsi pakan, jumlah pemberian pakan harian, frekuensi pemberian pakan, kualitas protein (komposisi asam amino) dan kualitas energi non protein.
Ikan tidak membutuhkan protein dalam arti yang sebenarnya, tetapi memerlukan kombinasi seimbang 20 jenis asam amino esensial dan non-esensial utama yang menyusun protein. Ikan memanfaatkan protein pakan dengan mencernanya menjadi asam amino bebas yang dapat diserap ke dalam darah dan diedarkan ke jaringan di seluruh tubuh, yang kemudian disusun kembali menjadi protein jaringan ikan yang spesifik dan baru. Protein di dalam jaringan ikan dibentuk dari keseluruhan (20 jenis) asam amino utama. Ikan di dalam tubuhnya dapat mensintesis beberapa jenis asam-asam amino ini, tetapi beberapa asam amino lainnya tidak, oleh karena itu harus dikonsumsi. Kesepuluh jenis asam amino yang tidak dapat disintesis oleh ikan ini disebut ”asam amino esensial” sehingga harus disediakan dalam jumlah layak di dalam dietnya. Asam-asam amino esensial yang dibutuhkan oleh ikan dan hewan sama atau serupa, namun secara kuantitatif berbeda, sebagai contoh asam amino yang dibutuhkan oleh ikan lele, ikan mas dan ikan nila (Tabel 1).

Tabel 1. Kebutuhan asam amino ikan lele, ikan mas dan ikan nila dan ketersediaan asam amino bagi ikan lele dalam lima bahan penyusun pakan utama (sebagai basis terkomsumsi) (Schmittou, H.R., 1997)

Asam Amino
Kebutuhan bagi jenis ikan (% pakan)
Ketersedian sumber protein bagi ikan lele
(% bahan penyusun)
Ikan lele
Ikan mas
Ikan nila
Tepung ikan
Tepung kedelai
Tepung biji kapas
Dedak padi
Jagung Pipil
Arginin
1.38
1.37
1.34
3.41
2.93
3.81
0.68
0.35
Histidin
0.48
0.67
0.54
1.23
0.94
0.91
0.19
0.23
Isoleusin
0.38
0.80
0.99
2.51
1.62
1.09
0.40
0.24
Leusin
1.12
1.06
1.09
3.99
2.73
1.78
0.63
1.06
Lisin
1.63
1.82
1.63
4.08
2.52
1.20
0.46
0.24
Metionin + sistin
0.74
0.99
1.02
1.90
1.05
1.05
0.28
0.19
Fenilalanin + tirosin
1.60
2.07
1.82
3.90
2.89
2.63
1.04
0.68
Treonin
0.64
1.25
1.15
2.19
1.36
1.06
0.38
0.24
Triptopan
0.16
0.25
0.32
0.52
0.51
0.45
0.08
0.06
valin
0.96
1.15
0.90
2.80
1.59
1.43
0.62
0.33


Protein terdapat pada semua jenis hewan dan tumbuhan dalam jumlah dan komposisi asam amino yang bervariasi. Namun, setiap jenis protein bervariasi pula dalam kecernaan (daya cerna) dan kandungan asam amino yang tersedia bagi ikan. Oleh karenanya, komposisi asam amino dan ketersediaannya di dalam bahan penyusun pakan (ingredients) mungkin tidak seimbang dan mungkin terbatas dibandingkan dengan kebutuhan untuk jenis ikan spesifik. Sumber bahan baku pakan (feedstuffs) yang dikehendaki bagi penyediaan protein untuk pakan ikan sebagaian besar besar berasal dari tepung ikan, karena produk ini tinggi persentase kandungan protein kasarnya, mengandungan semua asam amino esensial berkadar tinggi. Tetapi penggunaan bahan alternatif lain sebagai pengganti tepung ikan ataupun bungkil kedelai telah mulai dicobakan, antara lain menggunakan tepung kedelai sebagai penggangi tepung ikan (Moreau, Y., et.al, 2005 ; Sudaryono, A., et. al. 2005).
1.1.1.Fungsi protein
    1. Merupakan sumber energi bagi ikan,terutama apabila komponen lemak dan karbihidrat yang terdapat di dalam pakan tidak mampu memenuhi kebutuhan energi.
    2. Berparan dalam pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.
    3. Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
    4. Mrerupakan kompinen utama dalam pembentukan enzim, hormone, dan antibody.
    5. Turut berperan dalam pembentukan gamet.
    6. Berperan dalam proses osmoregulasi di daam tubuh.

Jumlah protein yang dibutuhkan dalam pertumbuhan yang optimal tergantung dari keberadaan sumber energi nonprotein dalam pakan. Kelebihan protein dalam pakan, berkaitan dengan energi non protein dalam pakan, akan menghambat pertumbuhan laju pertumbuhan. Catfish yang diberi pakan dengan kadar protein ditingkatkan di atas 45% tanpa peningkatan yang proporsional dari energi non protein akan mengalami penurunan laju pertumbuhan. Rendahnya ketersediaan energi non protein dalam pakan meneyebabkan sebagian energi dalam pakan dimetabolisme dan digunakan sebagai sumber energi.

1.1.2.Sumber protein
Di alam kebitikan pakan bagi ikan diperoleh dari bahan nabati maupun hewani. Bahan protein dari nabati misalnya kedelai, jagung ,terigu, ampas tahu, bungkil kacang tanah, bungkul kelapa dan dedak. Sementara, protein dari hewani misalnya tepung ikan, tepung tulang, tepung darah dan lain- lain.
Protein hewani memiliki kualitasa yang lebih baik dibandingan protein nabati. Hal ini dimungkinkan karena knadungan asam amino pada  protein hewani lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Selain itu protein naabati  selalu tebungkus oleh lapisan selulosa sehingga agak sulit atau lamabat bagi ikan untuk mencernanya.
Kebutuhan protein
            Tingkat kebutuhan protein setipa jenis ikan tidak sama, bahkan dalam satu spesies kebutuhan protein dapat berbeda. Kebutuhan protein langsung dipengaruhi oleh tingkat kecernaan dan pola asam amino essensial dalam pakan(komposisi asam amino). Jumlah minimal protein yang diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan maksimalditunjukkan dalam table 2. Untuk mencapai  keseimbangan nutrisi dalam pakan,sebaiknya digunakan protein yang berasal dari sumber hewani dan nabati secara bersama-sama.
Table 2. kebutuhan protein pada ikan untuk perumbuhan maksimal
Spesies ikan
Jenis protein
Suhu
Tingkat Protein Pakan(%)
Carp
Casein
23.0
38.5
Sidat
casein
25.0
44.5
Catfish
Casein
Putih telur
24.2
26.7
350
36.0
Red sea Bream
Casein + Galetin
25.0
55.0
            Sumber : Modifikasi dari Anwar et el, 1976
            Kebutuhan protein berdasarkan jenis dan ukuran ikna yang dipelihara pada berbagai kondisi lingkungan berbeda disajikan dalam table 4. Ikan yang berumur kurang dari 1 tahun membutuhkan pakan dengan kebutuhan protein 40-50%, ikan yangberumur 1-3 tahun membutuhkan protein dengan kadar protein 35-40% dan ikan yang berumur lebih dari 3 tahun membutuhkan protein 25-30%.
Table 3.
Kadar Protein dalam Pakan KOmersil Untuk Beberapa Ukuran Ikan


Spesies ikan
Kebutuhan Protein dalam Pakan (%)
Larva Fingerling
Fingerling belum dewasa
Dewasa dan induk
Carp
35-40
30-36
28-32
Sidat
50-56
45-50
-
Catfish
43-47
37-42
28-32
Red sea Bream
45-54
43-48
-
            Sumber : Modifikasi adri Anwar et el , 1976
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan protein adalah:
1.suhu air
            Suhu akan mempengaruhi proses metabolisme protein di dalam tubuh ikan sehingga kebutuhan pakan meningkat. Suhu yang tinggi juga akan meningkatkan kebutuhan energi untuk memelihara tubuh. Pada suhu 8,3 ºc,pertumbuhan yang cepat dari Chinook salmon (Oncorrhynchus ishawytsth) dapat dicapai dengan pemberian pakan buatandengan kadar protein 40 %. Pada lingkungan dengan suhu 14 ºc untuk memperoleh pertumbuhan yang sama dibutuhkan pakan buatan  dengan kadar 55%.

2.ukuran ikan
            Ikan kecil membutuhkan protein lebuh banyak dibandingkan dengan ikan besar karena laju pencernaan dan pertumbuhannya relative tinggi. Sebagai contoh ikan Mas saat masih larva membutuhkan pakan dengan kadar protein 43-47 % dan setelah dewasa mwmbutuhkan protein 37-42 %. Lele yang masih kecil membutuhkan pakan dengan kadar proein 35-40 % sedangkan lele dewasa membutuhkan protein 25-36 %.
3.Jenis ikan
            Jenis ikan dapat mempengaruhi kebutuhan protein di dalam pakan. Ikan karnivore membutuhkan protein lebih banyak dari pada ikan herbivore, sedangkan kebuthkan ikan omnivore diantara keduanya.




Tabel 4. Kebutuhan Protein pada Ikan Untuk Mencapai Pertumbuhan Optimal
Spesies ikan
Kandungan Protein dalam Pakan (%)
Ikan Mas
38.0
Ikan lele
35.0
Sidat
44.5
Grass crarp
41.0 – 43.0
Salmon
40.0-46.0
Bandeng
40.0
Udang windu
40.0-50.0

                Watanabe (1988) juga memberikan informasi tentang kadar protein pada pakan yang optimal untuk spesies ikan tertenti.
Table 5. Kadar Protein Pakan Optimal Bebebrapa Spesies Ikan
Spesies ikan
Sumber protein
Kadar protein Optimal (%)
Rainbow trout
Tepung ikan , kasein
34-45
Common carp
Tepung ikan, kasein
30-38
Channel catfish
Tepung ikan, ,telur
22-36
Sidat jepang
Kasein + argin + sistein
44,5
Tilapia zili
kasein
35-40
T. nilotica
Tepung ikan, kasein
30-35
Banding
kasein
40
Grouper
Tepung ikan, daging ikan tuna
40-45
Red sea bream
Tepung ikan, kasein
45-55
Ekor kuning
Tepung ikan
55
Tiger puffer
kasein
50
Udang pituh
Tepung ikan
28-32
Udang kuruma
Tepung ikan, daging cumi-cumi
40-60

4. kualitas protein
            Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pakan buatan yang seimbang dengan kadar protein 24 % memiliki efisiensi yang lebih baik dibandingkan dengan pakan buatan yang memiliki keseimbangan asam amino yang buruk meskipun kadar proteinnya 36%.

Table 6. Pengaruh Keseimbangan Protein Terhadap Konversi Pakan Pada Fingerling Catfish

Pakan
% Protein
Rasio Pakan dan Bobot Ikan
Rasio rotein dan Bobot Ikan
Protein yang seimbang
1
36
1,29
0,46
2
30
1,44
0,43
3
24
1,57
0,37
Protein yang Kurang Seimbang
4
36
1,63
0,59
5
30
1,90
0,58
6
24
2,45
0,59

            Apabila persentase protein dalam bahan baku pakanrendah, diperlukan pembarian pakan lebih banyak untuk menghasilkan laju pertumbuhan yang sama dengan pakan yang terbuat dari bahan baku yang terbuat dari protein berkadar tinggi.

1.2.Ampas Tahu
Kebutuhan asam amino pada beberapa jenis ikan disajikan pada table di bawah ini. Pakan dengamn kualitas protein yang tinggi adalah pakan yang mengandung asam amino dalam perbandingan optimal, sesuai dengan kebutuhan sintesis protein ikan. Berkurangnya satu atau lebih asam amino dalam protein akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan maupun nafsu makan. Penambahan asam amino yang kurang tersebut akan dapat memperbaiki kembali perumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. Pada gambar di bawah nampak sekali bahw aprotein yang lengkap akan menghasilkan pertumbuhan yang lebuh baik dibandingkan dengan protein yang kurang lengkap.
*            
*          




Keterangan
.Pakan dengan asam amino lengkap
.pakan tanpa tirosin,glisisn,asam asparat,asam glutamate,dan prolin
Pakan tanpa asam amino essensial
Pertumbuhan setelah asam amino essensialnya dilengkapI

            Biaya pakan merupakan biaya termahal dari jumlah total biaya produksi, yaitu berkisar 60-70% (Wahju, 1988), apalagi saat ini bahan baku pelet seperti tepung ikan masih mengandalkan dari impor. Ditambah lagi dengan ongkos produksi dan pemasaran menyebabkan harga pelet ikan semakin mahal. Salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan penggunaan alternatif bahan pakan yang berasal dari lokal, seperti ampas tahu. Walaupun ampas tahu telah dikenal dimanfaatkan untuk pakan ikan, namun perlu dioptimalisasikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas, sehingga dapat meningkatkan efisiensi. Ampas tahu merupakan hasil limbah hasil olahan kacang kedelai pada proses pembuatan tahu, dan masih memiliki nilai gizi yang dapat memenuhi kebutuhan ikan, yaitu sekitar 27 persen
            Kelemahan ampas tahu memiliki kandungan air yang tinggi yang dapat mengakibatkan umur simpannya pendek dan penggunaannya terbatas. Ampas tahu tidak tahan lama disimpan, sepat asam dan busuk karena aktivitas mikroba-mikroba perusak seperti bakteri, kapang dan ragi. Sifat ampas tahu yang tidak tahan lama disimpan mengakibatkan penggunaan ampas tahu tidak bisa lebih dari sehari atau langsung diberikan pada ikan. Penggunaan ampas tahu akan lebih efisien jika dilakukan suatu cara pengawetan. Pengeringan merupakan cara pengawetan namun memerlukan waktu dan tempat sehingga tidak aman dari kontaminan (jika dijemur), dan energi (jika dioven). Pembuatan silase merupakan cara pengawetan yang lebih ekonomis dan aman sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pengusaha tahu dan dilain pihak tidak banyak merubah bentuk dan nilai gizi ampas tahu tersebut.

            2.1. Deskripsi Ampas Tahu
            Ampas tahu merupakan limbah dari pembuatan tahu. Bahan utama pembuatan tahu adalah kacang kedele (Glycine max Merr) dengan kandungan proten berkisar 33- 42% dan kadar lemak 18-22% (Rachtamianto, 1974). Proses pembuatan tahu meliputi tahap perendaman kedelai, penggilingan, pendidhan bubur kedele, penyaringan atau pemerasan, penggumpalan sari kedelai dan pengempresannya. Pada proses penyaringan, bahan yang tersaring yaitu berupa padatan yang kita kenal sebagai ampas. Jumlah protein dari ampas tahu sangat bervariasi, terganting pada proses pembuatannya. Pada pembuatan tahu secara tradisional dilakukan secara manual, sehingga akan dihasilkan ampas tahu dengan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan secara mekanis. Ampas tahu biasanya berasal dari kacang kedele yang telah dimasak, sehingga ampas tahu mempunyai nilai biologis yang lebih tinggi daripada biji kedelai itu sendiri (Winarno, 1985).
            Ampas tahu memiliki daya tahan yang rendah, karena ampas tahu segar masih mengandung kadar air tinggi yaitu sekitar 84,5 persen dari bobotnya. Ampas tahu basah akan segera menjadi rusak dalam waktu 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ikan. Masalah ini dapat ditangani dengan cara dijemur atau di dalam oven lalu digiling sehingga menjadi tepung, namun dalam pelaksanaannya banyak mengalami kendala. Ampas tahu kering mengandung kadar air sekitar 10,0 – 5,5 persen (Pulungan dkk. 1984).
            Penggunaan ampas tahu segar pada ikan masih dan ternak lainnya seperti babi, sapi perah, unggas, dan ikan (Lubis, 1983). Ampas tahu masih mengandung protein sebesar 17 persen dari jumlah protein kedelai. Bila kandungan protein kedelai sebesar 35 persen, maka kandungan protein ampas tahu sebesar 6 persen berdasarkan berat segar (Shurtleff dan Aoyagi, 1979). Usaha peningkatan daya awet ampas tahu selama penyimpanan, dan sekaligus peningkatan nilai gizi ampas tahu perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pemberian dalam ransum ikan. Salah satu usaha adalah dengan pembuatan silase. Bolsen dan Sapienza (1993) mengemukakan bahwa dalam pembuatan slase akan berlangsung proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Fermentasi adalah suatu proses metabolisme dimana enzim dari mikroorganisme melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa, dan reaksi kmia lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia pada substrat organik dan menghasilkan produk tertentu. Bahan makanan yang telah mengalami fermentasi biasanya mempunyai nlai gizi yang lebih tinggi dari asalnya.
2.2. Proses Pembuatan Silase.
            Menurut Cullison dan Lowrey (1987), silase adalah pakan hasil pengawetan dari bahan yang berkadar air tinggi, umumnya hijauan rumput, dibawah kondisi anaerob alam tempat yang disebut silo, sedangkan menurut Susetyo (1980) silase adalah bahan pakan yang telah disimpan dalam keadaan anaerob dengan maksud mempertahankan warna dan palatabilitasnya walaupun telah disimpan beberapa waktu lamanya. Ensilase adalah proses pembuatannya sedangkan tempat pembuatannya dinamakan silo (Bolsen dan Sapienza, 1983).
            Proses pembuatan silase memerlukan waktu 2 sampa 3 minggu (Cullison dan Lowrey, 1987). Menurut Bath dkk (1985), pembentukan asam asetat berlangsung selama 3 sampai 5 hari pertama dan dilanjutkan dengan pembentukan asam laktat dan berheti pada sekitar hari ke 20 dimana pH mencapai sekitar 4,0. Secara garis besar proses pembuatan silase terdiri dari empat fase (Bolsen dan
Sapienza, 1983), yaitu :


            (1) Fase Aerob
            Fase ini dimulai sejak bahan dimasukkan ke dalam silo. Untuk menghindari dampak negatif dari fase aerob ini, maka pengisian dan penutupan silo harus dilakukan dalam waktu singkat dan cepat.
            (2) Fase Fermentatif
            Fase ni merupakan masa aktif pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat. Bakteri tersebut akan memfermentasi gula menjadi asam laktat disertai produksi asam asetat, etanol, karbondioksida, dan lain-lain. Masa fermentatif aktif berlangsung selama 1 minggu-1 bulan. Fermentasi gula yang cepat oleh bakteri penghasil asam laktat disebabkan oleh rendahnya pH akan menghentikan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan.
            (3) Fase Stabil.
            Fase ini terjadi setelah masa aktif pertumbuhan bakteri asam laktat berakhir. Faktor utama yang berpengaruh pada kualitas silase selama fase ini adalah permeabilitas silo terhadap oksien. Tingkat kehilangan bahan kering dapat dikurangi jika silo ditutup dan disegel dengan baik sehingga hanya sedikit sekali aktivitas mikroba
yang dapat terjadi pada fase ini.
             (4) Fase Pengeluaran Silase
            Fase ini dimulai pada saat silo dibuka dan siasenya diberikan kepada ikan. Pada fase ini oksigen bebas akan mengkontaminasi permukaan silase yang terbuka, sehingga menyebabkan perkembangan mikroorganisme aerob.
            2.4. Faktor yang Memacu Pertumbuhan Ikan.
            Aspek fisiologi pencernaan dan pakan merupakan faktor penting untuk memacu
pertumbuhan, karena menurut Wiadnya, dkk (2000), lambatnya pertumbuhan diduga
disebabkan dua faktor utama, yaitu :
a. Kondisi internal ikan sehubungan dengan kemampuan ikan dalam mencerna dan
memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh. Benih ikan nila gift
merupakan ikan yang termasuk hasil perbaikan genetika dari ikan mujair dan ikan
nila, sehingga potensi tumbuhnya lebih baik.
b.Kondisi eksternal pakan, yang formulasinya belum mengandung sumber nutrien
yang tepat dan lengkap bagi ikan sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada
tingkat optimal.
2.5. Penggunaan Ampas Tahu pada Ikan
Ampas tahu telah digunakan oleh para petani ikan sebagai pakan tambahan, dengan pemberian secara langsung dalam karung yang dilubangi, namun belum diketahui efisiensi pertumbuhannya pada ikan. Komposisi ampas tahu dan ampas tahu hasil pengawetan (silase ampas tahu) .
Tabel 8. Perbandingan komposisi ampas tahu dengan silase ampas tahu

Protein
Air
Serat Kasar
pH
Ampas Tahu
24,02 %
90,18 %
21,55%
-
Silase Ampas Tahu
27,99 %
83,18 %
21,42 %
3-4

Protein merupakan sumber utama yang dibutuhkan oleh ikan. Kualitas protein ditentukan oleh kelengkapan asam amino di dalamnya. Protein nabati nabati umumya defisien asam amino lysine dan metionin, yang dibutuhkan untuk memacu pertumbuhan ikan (Ensminger, 1993). Maka dari itu penggunaan silase ampas tahu sebagai sumber protein harus dilengkapi dengan asam amino sintetis. Metionin merupakan asam amino esensial yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan.
Dilihat dari komposisinya, kandungan protein silase ampas tahu cukup tinggi, namun serat kasarnya juga cukup tinggi. Karena serat kasar cukup tinggi maka penggunaannya harus dibatasi. Ikan nila gift termasuk ikan omnivora yang cenderung herbivora. Hasil penelitian Mudawanah (2005) menunjukkan bahwa penggunaan ampas tahu yang ditepungkan dalam pelet sebanyak 30% tidak menghambat pertumbuhan benih ikan gurame.
            Protein nabati dalam pelet komersial yang biasa digunakan adalah tepung kedele. Menurut Ensminger (1993) maksimal penggunaan tepung kedele pada ikan adalah 50 %. Silase Ampas tahu merupakan hasil pengawetan ampas tahu, yang bahan asalnya dari kacang kedele. Penggunaan silase ampas tahu 50% dalam pelet diharapkan dapat mengganti penggunaan tepung kedele dan tepung ikan yang masih merupakan bahan impor pada industri pelet komersial.
            Pelet merupakan bentuk pakan yang paling sesuai untuk ikan, karena teksturnya halus, kompak, nilai gizi merata, dan mudah pemberiannya. Filler (bahan pengisi) dalam pembuatan pelet dapat digunakan pakan remah, tepung tapioka dan tepung jagung.





1 komentar:

  1. tadinya saya tertarik dengan ampas tahu ini, namun yang difermentasi. jalan pintas. beli oncom 1100 gram, harga 3000 rp. kemudian dikeringkan dan ditepungkan. jadi 285 gram tepung oncom kering. dilabkan protein 20%. wah rugi mbak. mosok 1 kg tepung oncom harganya 10.500 rp. masih belum bisa menggantikan bungkil kedelai india yg proteinnya 43% harga dibawah 7rb

    BalasHapus